Featured Posts

Tips-tips Menguasai Bahasa Tionghoa Berikut ini beberapa tips yang bisa saya berikan bagi anda yang ingin menguasai bahasa Tionghoa: 1. Ikut kursus atau sekolah. Harus diakui bahwa cara paling simpel dan...

Readmore

Software Input Pinyin Jika kita menggunakan sistem operasi Windows, maka untuk mengetik karakter Tionghoa diperlukan software input. Beberapa service atau IME(Input Method Editors) telah disediakan...

Readmore

Apakah Bahasa Tionghoa Sulit? Murid saya cukup sering mengeluh, "Laoshi, bahasa Tionghoa kok sulit sekali ya?" Waktu mengajar, ketika saya bertanya, "Ni juede Hanyu nan ma?" (Menurut kamu apakah Hanyu...

Readmore

Bahasa Tersulit Di Dunia Ada satu artikel tentang bahasa tersulit di dunia yang bisa dibaca di sini. Di sana dikatakan, sangat sulit menentukan bahasa yang paling sulit di dunia, karena hal ini dipengaruhi...

Readmore

Nulis Rss

Belajar Bahasa Tionghoa Lewat Film

Posted on : 20-07-2010 | By : Budi | In : Bahasa

0

filmSalah satu media belajar bahasa asing adalah melalui menonton film. Saya baru membaca sebuah artikel yang cukup bagus tentang hal ini. Meski artikel itu secara khusus berbicara tentang bahasa Inggris, namun saya kira bisa juga diterapkan untuk belajar bahasa Tionghoa. Secara garis besar isi artikel tersebut adalah sebagai berikut.

Belajar bahasa dengan cara menonton film adalah salah satu proses belajar dengan input. Proses belajar dengan input pada dasarnya adalah menyerap sebanyak mungkin kalimat dalam bahasa asing sehingga di dalam otak kita secara tidak sadar telah tertanam bagaimana menyampaikan kalimat seperti yang kita serap tersebut dengan benar. Ini berlaku misalnya di dalam belajar tata bahasa. Sebenarnya tata bahasa tidak perlu dipelajari secara khusus jika kita hanya ingin bisa berbahasa asing secara benar. Cukup dengan banyak mendengar dan membaca kalimat bahasa asing dengan tata bahasa yang benar, lambat laun kita akan punya gambaran secara sendirinya tentang tata bahasa yang benar.

Dengan menonton film, kita akan mengetahui bagaimana orang Tionghoa menyampaikan maksud mereka melalui kalimat, termasuk bagaimana pengucapan yang benar, penggunaan kata dan bagaimana berdialog dalam bahasa Tionghoa, yang tentunya berbeda dengan bahasa tulis.

Kesulitan menonton film adalah kita mungkin tidak mengerti apa yang diucapkan dalam film itu. Jika kita menonton film dalam DVD, mungkin kita bisa menyetop film itu sementara kita mencari arti kata dalam kamus. DVD juga menyediakan fitur subtitle yang memungkinkan kita langsung mengetahui arti katanya, namun perlu diperhatikan untuk tidak menonton film dengan menampilkan subtitle terus-menerus jika kita memang mau belajar, karena dengan demikian kita cenderung hanya membaca subtitlenya saja.

Akan lebih baik jika kita mampu mencari gambaran dasar tentang film tersebut(secara khusus untuk pelajar bahasa film itu), misalnya untuk film The Forbidden Kingdom. Dengan demikian kita sudah tahu perbendaharaan kata yang nantinya akan muncul di dalam film, sehingga mempermudah kita memahami film tanpa harus sering menyetop film untuk mencari arti kata.

Untuk mencari film berbahasa Tionghoa, selain menyewa atau membeli DVD, kita juga bisa menonton di internet, misalnya lewat Youtube atau Baidu. Di Youtube ada channel yang khusus memuat acara-acara televisi Tiongkok, misalnya chinesecivilization dan chinesecivilization2. Hanya saja untuk klip-klip ini tidak ada subtitle Inggrisnya, tetapi kebanyakan tetap ada subtitle bahasa Tionghoanya.

Nama Sekolah Kuno Tiongkok

Posted on : 16-07-2010 | By : Budi | In : Budaya, Sejarah

0

dinasti QingTiongkok 4000 tahun lebih yang lalu sudah memiliki sekolah. Di waktu itu, sekolah dinamakan “yang“. Sekolah yang lebih tinggi dinamakan “shang yang“, sekolah yang lebih rendah dinamakan “xia yang“. Sampai dinasti Xia(abad 21 – abad 16 SM), sekolah dibagi lagi menjadi empat tingkatan, yakni: “xue“, “dong xu“, “xi xu“, “xiao“.

Sampai pada dinasti Shang(abad 16 – 1066 SM), empat macam sekolah ini diubah namanya menjadi “xue“, “you xue“, “zuo xue“, “xu“. Dinasti-dinasti berikutnya mendirikan juga sekolah khusus di istana, dinamakan “pi yong“, “cheng jun” dan lain-lain.

Sesampainya di dinasti Han(206 SM – 23 M), sekolah yang paling tinggi dinamakan “tai xue“, di bawahnya dibagi menjadi “dong xue“, “xi xue“, “nan xue“, “bei xue“. Kemudian “tai xue” diubah menjadi “guo zi xue“, “guo zi si“, “guo zi jian“. Dinasti Han merupakan masa di dalam sejarah pendidikan Tiongkok yang pendidikannya cukup maju. Sekolah pada dinasti Han dibagi menjadi sekolah resmi dan sekolah privat. Salah satu sekolah privat dinamakan “meng xue“, sederajat dengan sekolah dasar.

Sampai kepada dinasti Ming(1368 – 1644 M), dinasti Qing(1644 – 1911 M) yang jaraknya paling dekat dengan hari ini, “Guo zi jian” tidak lagi memiliki karakteristik sebagai sekolah, namun telah menjadi lembaga negara yang khusus mengatur pendidikan. Di saat itu umumnya sekolah dinamakan “shu yuan“, “shu tang“, “si shu“.

Pada dinasti Qing, pemerintah Qing menerbitkan perundangan tentang regulasi sekolah, yang tidak hanya menegaskan seluruh sistem persekolahan, tapi juga menetapkan pelajaran di tiap tingkatan sekolah. Pelajaran sekolah dasar yang dicantumkan dalam perundangan ini adalah satu set pelajaran sekolah dasar yang pertama di Tiongkok.

(Diterjemahkan dari Overseas Chinese Language and Culture Education Online)

Cao Cao

Posted on : 06-07-2010 | By : Budi | In : Sejarah

1

Cao CaoCao Cao(155-220 M) adalah politikus, ahli militer, sastrawan yang terkenal di akhir dinasti Han Timur.

Cao Cao memiliki style name Mengde, berasal dari Anhui. Di akhir dinasti Han Timur, Cao Cao di dalam perjuangan melawan pemberontakan para petani, mendirikan pasukan yang kuat.

Sebagai seorang ahli militer, ia suka menelaah buku-buku militer. Ia berpendapat bahwa di dalam berperang kita harus selalu menyesuaikan kondisi. Di dalam pertempuran Guandu, Cao Cao hanya dengan menggunakan 20000 tentara, dengan tepat menganalisa kekuatan lawan dan diri sendiri, dan akhirnya dengan jumlah prajurit sedikit itu berhasil mengalahkan lawan yang berkekuatan lebih besar, yaitu Yuan Shao dengan prajurit 100000 orang. Dengan demikian pasukan Cao Cao pun bertambah besar. Pasukan yang besar memerlukan lebih banyak suplai makanan. Di kala tidak berperang, Cao Cao memerintahkan prajuritnya untuk bercocok tanam. Cara ini tidak hanya mampu mengatasi masalah pangan, juga meningkatkan perekonomian masyarakat di daerah utara.

Di dalam ranah politik, Cao Cao menemukan bahwa perkembangan para tuan tanah yang kuat mengakibatkan perpecahan dinasti Han Timur. Maka Cao Cao sangat memperhatikan bagaimana mengontrol kekuatan para tuan tanah tersebut. Ia pernah mendirikan tiang-tiang besar di depan gerbang kantor pemerintah, supaya digunakan untuk memukul orang-orang yang beraninya menindas kaum yang lemah. Ia juga mengangkat orang yang berani memukul para tuan tanah itu sebagai pejabat. Cara-cara ini sangat membantu dalam memperkuat kekuasaan Cao Cao. Di dalam memakai orang, Cao Cao menerapkan kebijakan meritokrasi, yaitu asalkan orang itu berkemampuan, tidak peduli latar belakangnya, ia akan dipakai. Maka dari itu, saat Cao Cao memerintah, banyak orang berbakat yang diberikan posisi penting. Orang-orang ini berperan besar dalam ekspedisi menaklukkan daerah utara. Karena faktor-faktor menguntungkan inilah, ditambah dengan kontrolnya terhadap kaisar Han, maka Cao Cao sejak perang Guandu di tahun 200, berhasil menaklukkan para penguasa lain di utara, menyelesaikan perpecahan di utara. Ini tidak hanya berarti besar bagi pulihnya ekonomi masyarakat daerah utara, juga memberikan landasan yang baik bagi dinasti Jin Barat yang akhirnya menyatukan seluruh Tiongkok.

Selain itu, Cao Cao juga sangat memperhatikan kebudayaan. Ia adalah orang yang berbakat seni. Kedua putranya Cao Pi dan Cao Zhi juga adalah sastrawan yang terkenal.

(Diterjemahkan dari Confucius Institute Online)

Boxue – Terpelajar dalam Banyak Hal

Posted on : 30-05-2010 | By : Budi | In : Bahasa

0

boxueIstilah boxue berarti memiliki pengetahuan yang luas. Bo = luas dan kaya, sedangkan xue = belajar. Orang Tiongkok zaman dulu menganggap seseorang yang terpelajar adalah orang yang benar-benar memiliki pengetahuan yang luas. Ini tentunya berbeda dengan zaman kita sekarang, yang menuntut sarjana kita memiliki keahlian atau menguasai bidang keilmuan yang spesifik. Namun setidaknya patut kita renungkan tentang istilah boxue ini. Boxue memiliki semangat di belakangnya yang mungkin layak kita tiru.

Boxue berarti mempunyai hati yang lapang, mau mempelajari segala sesuatu. Kita seringkali malas dan enggan belajar hal baru, apalagi hal yang tidak kita sukai. Padahal hal yang tidak kita sukai itu kadang dapat membantu kita. Jadi sebaiknya kita tetap bersemangat untuk terus belajar hal-hal baru, hal-hal lama, hal-hal yang sama sekali bukan ‘bidang’ kita. Niscaya kita akan mampu melihat dunia ini dengan ‘kacamata’ yang lebih jernih.

Boxue juga berarti semangat yang tidak menyerah, mau bertahan. Tanpa ketekunan, tidak mungkin kita dapat mengerti banyak hal.

Boxue juga mengandung semangat rendah hati. Selalu merasa diri kurang, selalu ingin menambah pengetahuan, selalu ingin maju.

Jadi bagaimana? Yuk kita sama-sama terus belajar!

Belajar Bahasa Tionghoa Online Gratis di Confucius Institute Online

Posted on : 22-05-2010 | By : Budi | In : Bahasa

0

Salah satu situs yang menyediakan fasilitas belajar bahasa Tionghoa online secara gratis adalah Confucius Institute Online. Situs ini memiliki konten yang sangat lengkap. Jika anda orang dewasa, bisa masuk ke materi pelajaran untuk orang dewasa. Untuk anak-anak, juga tersedia materi yang sesuai bagi mereka. Isi materi boleh dibilang sangatlah lengkap, mulai dari audio pelafalan yang bisa anda dengarkan, tulisan Hanzi(huruf Tionghoa), ejaan pinyin, serta dilengkapi pula dengan cara menulis Hanzi.

Konten bagi pelajar dewasa juga dilengkapi berbagai materi tambahan yang menarik, seperti berita-berita seputar Tiongkok, artikel-artikel budaya, dan lain-lain. Begitu pula dengan konten untuk anak-anak, ada games yang bisa dimainkan, pengenalan budaya Tionghoa, cerita-cerita Tionghoa, dan hal-hal menarik lainnya.

Jadi jika anda ingin mencoba belajar bahasa Tionghoa secara mandiri, tidak ada salahnya mencoba belajar melalui situs ini.

Selamat belajar!

Grandmaster Ye Wen

Posted on : 18-05-2010 | By : Budi | In : Budaya

0

Ye WenSebuah film telah membuat banyak orang kembali mengingat nama “Ye Wen”(Ip Man). Grandmaster wushu aliran Yongchun(Wing chun) ini sempat mengajar seorang murid yang terkenal yaitu Bruce Lee.

Ye Wen(1892-1972), nama aslinya adalah Ye Jiwen, berasal dari Sangyuan di Foshan, seorang suku Ye.

Saat berumur 7 tahun, Ye Wen berguru kepada Chen Huashun, belajar ilmu bela diri Yongchun. Kemudian ia melanjutkan belajar kepada Wu Zhongsu dan putra Liang Zan, Liang Bi. Teknik wushu Ye Wen berkembang pesat. Sejak kecil ia dididik dengan ajaran Konfusianisme yang ketat, memberikan landasan budaya tradisional yang kental bagi Ye Wen. Saat ia berumur 16 tahun, ia belajar pendidikan barat di Hongkong, membuatnya mengenal pengetahuan modern, misalnya dalil mekanika, geometri dan lain-lain yang dapat menjelaskan aturan-aturan Yongchun. Dengan demikian ia mempelajari Yongchun dengan lebih dalam lagi. Akhirnya menjadi sumbangsih besar bagi wushu Tiongkok.

Asalkan sungguh-sungguh mau belajar, siapa pun akan diajar dengan sekuat tenaga oleh Ye Wen. Sesuai dengan kemampuan masing-masing murid, Ye Wen juga menerapkan metode pengajaran yang berbeda-beda, sehingga para muridnya masing-masing dapat berkembang.

Murid Ye Wen sangat banyak, namun tidak ada yang lebih terkenal daripada Li Xiaolong(Bruce Lee). Tahun 1955, Bruce Lee yang baru berumur 15 tahun mulai belajar kepada Ye Wen di Hongkong. Waktu itu Bruce Lee belajar dengan giat, sama sekali tidak pernah bolos, bahkan selalu datang lebih awal untuk berlatih, di dalam perjalanan menuju tempat berlatih pun ia berjalan sambil berlatih, sampai-sampai dianggap sebagai orang gila.

Menurut catatan resmi, di seluruh dunia ada lebih dari 2 juta orang berlatih Yongchun. Di antaranya sebagian besar karena faktor Bruce Lee. Ada orang bilang, jika Ye Wen tidak datang ke Hongkong untuk mengajar, ilmu Yongchun tidak akan pernah menjadi populer sampai ke penjuru dunia, dan Bruce Lee juga tidak akan menjadi terkenal seperti sekarang ini.

Karena pencapaian yang dilakukan Ye Wen dalam mengembangkan ilmu Yongchun, maka di kalangan aliran Yongchun, Ye Wen selalu dianggap sebagai “Grandmaster”.

(Diterjemahkan dari Confucius Institute Online)

Ip Man dan IP Man

Posted on : 06-05-2010 | By : Budi | In : Bahasa

0

ip-man-2-movie-posterIp Man 2 sudah seminggu ini bertengger di layar bioskop. Satu hal yang menggelitik saya adalah pengucapan judul film ini. Banyak orang menyebutnya dengan ai pi men. Lucu sekali. IP Man? Jika IP adalah singkatan dari Internet Protocol, maka bisa dibayangkan IP Man itu jagoan seperti apa. Sedangkan kenyataannya film ini tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan dunia internet.

Ip Man adalah sebuah nama, nama tokoh utama film ini, yang juga adalah orang yang dulu benar-benar ada. Ip Man adalah dialek Kanton(Guangdong hua), yang digunakan di daerah Hongkong, Guangzhou, Shenzhen, dan sekitarnya. Film ini adalah film buatan Hongkong, jadi tidak heran jika judulnya menggunakan bahasa Kanton. Jadi Ip Man seharusnya bukan dibaca ai pi men, karena bukan bahasa Inggris, melainkan dialek Kanton. Putonghua/bahasa Tionghoa dari Ip Man adalah Ye Wen, yang bisa dibaca di dalam tulisan Tionghoa di poster film ini.

Hari Raya Qingming

Posted on : 04-05-2010 | By : Budi | In : Budaya, Sejarah

1

QingmingQingming adalah salah satu titik di dalam 24 titik pembagian musim di Tiongkok. Karena 24 titik ini dengan cukup objektif mencerminkan suhu udara, curah hujan, fenologi dan berbagai aspek lain dalam satu tahun, maka penduduk di zaman kuno menggunakan titik-titik itu untuk mengatur kegiatan pertanian. Begitu sampai pada titik Qingming, suhu udara naik, curah hujan bertambah, merupakan masa menanam yang sangat baik. Oleh karena itu ada ungkapan “Di seputar Qingming, menanam labu dan kacang”, “tumbuhan menimbulkan hutan, tidak ada yang melebihi qingming”. Jelas bahwa Qingming dan pertanian memiliki hubungan yang sangat erat. Tetapi Qingming sebagai hari raya, telah memiliki makna berbeda dengan makna asalnya yang berhubungan dengan pertanian. Titik musim adalah lambang perubahan urutan musim, sedangkan hari raya selalu memiliki arti tradisi dan peringatan.

Hari raya Qingming adalah hari raya tradisional Tiongkok, juga merupakan hari raya pengorbanan, merupakan hari menyembah leluhur dan membersihkan makam. Membersihkan makan biasa disebut shangfen, merupakan tradisi menyembah leluhur yang telah mati. Suku Han dan beberapa suku minoritas kebanyakan membersihkan makam di waktu Qingming.

Menurut tradisi lama, ketika membersihkan makam, orang harus membawa arak, makanan dan buah-buahan, serta uang kertas. Mereka lalu mempersembahkan barang-barang ini di depan makam leluhur, dan membakar uang kertas, demi memberikan tanah baru bagi kuburan itu. Selain itu juga memotong beberapa tunas muda untuk ditanam di atas kuburan. Setelah itu diadakan ritual menyembah leluhur. Terakhir adalah makan makanan dan minum arak serta pulang ke rumah. Puisi yang melukiskan hari raya Qingming tak ada yang lebih terkenal dari puisi karya sastrawan dinasti Tang, Du Mu, yang berjudul “Qingming”: “Di waktu Qingming air hujan turun tanpa henti, pejalan kaki larut dalam kesedihan. Mereka bertanya di mana ada kedai? Anak gembala menunjuk ke dusun di tengah bunga aprikot.” Sajak ini melukiskan keadaan di waktu Qingming. Tentu sajak lain yang melukiskan Qingming masih sangat banyak, misalnya, sajak Song Zhiwen dari dinasti Tang, “Makanan Dingin di Tengah Perjalanan”, sajak Zhang Ji dari dinasti Tang, “Urusan di Pintu Lu”, sajak Huang Tingjian dari dinasti Song, “Qingming”, sajak Yang Wanli dari dinasti Song, “Makanan Dingin di Atas Bukit” dan lain-lain.

Hari raya Qingming, juga disebut hari raya Piknik. Menurut penanggalan Masehi, hari raya ini jatuh di antara tanggal 4-6 April, di waktu ini matahari musim semi sangat cerah, rerumputan dan pepohonan berdaun hijau, juga merupakan waktu pelesir musim semi yang baik bagi orang-orang(pada zaman dulu dinamakan taqing). Maka orang di zaman kuno juga melakukan pelesir di waktu Qingming, dan melaksanakan beberapa kegiatan olahraga. Saat membersihkan makam, anak-anak juga sering bermain layang-layang. Kadang di layang-layang itu dipasang semacam seruling, sehingga ketika tertiup angin akan mengeluarkan suara seperti seruling.

Hari raya Qingming kira-kira mulai ada sejak dinasti Zhou, berarti sudah berumur 2500 tahun lebih. Karena hari raya Qingming dan hari raya Hanshi berdekatan, dan hari raya Hanshi adalah hari ketika orang tidak menyalakan api membersihkan makan, lambat laun, Hanshi dan Qingming bergabung menjadi satu, dan Hanshi juga menjadi nama lain dari Qingming. Hal ini juga menambah satu tradisi dalam Qingming, yaitu tidak menyalakan api, hanya makan makanan dingin.

(Diterjemahkan dari Overseas Chinese Language and Culture Education Online)

Teknik Pengobatan Tiongkok Kuno – Akupunktur

Posted on : 03-05-2010 | By : Budi | In : Budaya, Sejarah

0

AkupunkturAkupunktur adalah metode pengobatan sederhana dan efektif yang sudah dikenal masyarakat umum. Akupunktur merupakan warisan budaya Tiongkok yang sangat berharga. Sejak zaman purba, orang telah menemukan cara pengobatan dengan memanasi bagian tubuh tertentu menggunakan batu yang dipanaskan. Ini adalah cara pengobatan dengan pemanasan yang pertama kali ada. Menurut catatan buku-buku kuno, orang pernah memakai pinus, cemara, bambu, elm, murbei, jujube dan lain-lain yang dipanaskan kemudian ditempelkan di bagian tubuh tertentu untuk mengobati penyakit yang berbeda(dinamakan “pemanasan delapan kayu”).  Di kemudian hari cara ini berubah menggunakan daun, dan cara ini terus diwariskan turun-temurun, hingga menjadi metode moxibustion yang kita kenal sekarang ini.

Asal-usul akupunktur bisa ditelusuri dari teknik pengobatan penyedotan darah. Metode ini bukan hanya ada di Tiongkok, melainkan juga digunakan di berbagai bangsa di dunia. Tetapi kenapa metode tusuk jarum ini berkembang di Tiongkok dan menjadi terkenal di seluruh dunia? Ini berhubungan dengan ditemukannya sistem meridian.

Sistem meridian paling tua tercatat di dalam penemuan arkeologi di makam dinasti Han di Mawangdui. Meskipun waktu itu dicatat dengan sederhana dan kasar, tetapi di dalam buku selanjutnya yaitu Inner Canon of Yellow Emperor (Huangdi Neijing), telah menjadi sistem yang lengkap. Karena dinasti Han telah memiliki ilmu sistem meridian, maka teknik akupunktur telah melepaskan diri dari teknik pengobatan berbasis pengalaman yang telah kuno, dan menuju teori kedokteran yang lebih maju.

Di dalam catatan buku penemuan arkeologi Mawangdui, hanya ditemukan penggunaan metode moxibustion, sedangkan metode tusuk jarum baru ditemukan kemudian—belum adanya teknologi logam, tidak dapat menciptakan jarum halus dan keras yang cocok. Inner Canon of Yellow Emperor yang dicatat pada dinasti Han telah menuliskan alat jarum kuno—terdiri dari sembilan jarum:

  1. Jarum bundar(badan jarum berbentuk batang yang bundar, kepala jarum berbentuk oval), terutama digunakan untuk pemijatan titik akupunktur.
  2. Jarum runcing(badan jarum bundar, ujung jarum berbentuk prisma segitiga, memiliki mata jarum yang runcing), digunakan untuk menyedot darah.
  3. Jarum bundar tajam(badan jarum agak kasar, ujung jarum bundar dan runcing), digunakan untuk tusukan darurat.
  4. Jarum lanjam(kepala jarum besar dan runcing, seperti panah), cocok untuk tusukan yang tidak dalam.
  5. Jarum halus(badan jarum halus, seperti rambut), penggunaannya sangat luas.
  6. Jarum ti(badan jarum besar, ujung jarum agak tumpul), digunakan untuk menekan.
  7. Jarum berili(badan jarum seperti pedang, memiki dua mata), digunakan untuk membelah dan membuang nanah.
  8. Jarum besar(badan jarum agak besar, ujung jarum agak bundar), kadang digunakan untuk sakit bagian persendian.
  9. Jarum panjang(terbesar di antara 9 jarum ini, kira-kira 20 cm), digunakan untuk menusuk otot dengan lemak yang tebal.

Dari jarum-jarum di atas kita bisa mengetahui, ahli akupunktur Tiongkok di zaman kuno berhubungan erat dengan ahli bedah.

Awal dinasti Jin Barat, sastrawan terkenal Huangfu Mi menderita sakit sampai salah satu kakinya lebih pendek. Ia berkali-kali menolak menjadi pejabat, berkonsentrasi menulis buku. Selain Imperial Century(Di Wang Shiji) dan buku-buku sejarah lainnya, Huangfu Mi juga memperbaiki beberapa buku kedokteran di masa itu, dan memilih dari antaranya teori yang berhubungan dengan akupunktur menjadi buku Zhenjiu Jia Yi Jing. Buku ini adalah buku tentang akupunktur pertama di dalam sejarah kedokteran Tiongkok. Zhenjiu Jia Yi Jing menjadi buku klasik di dalam ilmu akupunktur, ia tidak hanya dipelajari turun-temurun, juga disebarkan ke luar negeri, sampai sekarang masih menjadi buku referensi bagi dunia akademik serta klinik akupunktur.

Buku-buku akupunktur di masa dinasti Jin dan dinasti Utara Selatan kebanyakan telah hilang. Ahli kenamaan dinasti Tang, Wang Tao, ketika menulis Waitai Miyao, hanya mencatat moxibustion, tidak mencatat tusuk jarum. Buku ini berpengaruh besar bagi generasi berikutnya. Sampai dinasti Song, Lin Yi dan kawan-kawan ketika membenahi buku-buku kedokteran, menunjukkan “menggunakan moxibustion tetapi tidak menggunakan tusuk jarum, adalah kelemahan dalam kedokteran” di dalam buku Wang Tao, maka sejak itu teknik tusuk jarum barulah diperhatikan. Demi membangkitkan kembali akupunktur, Wang Weiyi dari dinasti Song menulis tiga jilid buku “Bagan Titik Akupunktur Manusia Tembaga”, disebarkan ke seluruh propinsi, dijadikan prasasti. Selain itu, Wang Weiyi juga mendesain manusia tembaga, dibuat mirip manusia asli, dengan segala organ tubuhnya, dan diukir dengan nama-nama titik akupunktur, dengan lubang pada titiknya. Titik-titik itu dilapisi dengan lilin, di dalamnya diberi air, digunakan untuk berlatih menusuk titik akupunktur bagi siswa. Jika tusukannya tepat dan air keluar dari titik tersebut, siswa tersebut boleh mendapatkan nilai. Alat ini sangat bermanfaat bagi pembelajaran akupunktur. Di masa perang antara dinasti Song dan Jin, manusia tembaga dan prasasti dirampas oleh tentara Jin dan dibawa ke utara.

Pada dinasti Ming, akupunktur sangatlah mendapat tempat. Pernah dibuat manusia tembaga yang diletakkan di rumah sakit. Ahli kedokteran Ming, Gao Wu, juga pernah membuat manusia tembaga sebanyak tiga buah, laki-laki, perempuan, anak, namun belum sempat disebarluaskan. Buku Gao Wu, Zhenjiu Ju Ying, adalah buku tentang akupunktur yang terkenal di masa itu.

Ahli kedokteran terkenal, Li Shizhen, mempelajari sistem meridian akupunktur. Ketika meneliti buku-buku kedokteran kuno tentang “delapan aliran meridian”, ia kemudian menulis buku Qi Jing Ba Mai Kao. Li Shizhen berpendapat bahwa hubungan antara qijing dan zhengjing adalah bagaikan danau dan sungai, air sungai(zhengjing) banyak yang meluap ke danau(qijing).

Sejak reformasi dan keterbukaan Tiongkok, ilmu akupunktur terus berkembang, banyak dokter akupunktur pergi ke luar negeri untuk mengobati, mengajar, bertukar pikiran, sehingga ilmu ini semakin terkenal di dunia.

(Diterjemahkan dari Overseas Chinese Language and Culture Education Online)

Pencipta Tahu(Doufu)

Posted on : 24-04-2010 | By : Budi | In : Budaya, Sejarah

0

Tahu“Tiongkok adalah negara pencipta tahu.” “Tahu telah mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, merupakan sumbangsih besar kepada umat manusia.” Berbicara tentang tahu(doufu) Tiongkok, orang Jepang selalu merasa kagum dan memujinya.

Tahun 1963, delegasi agama Budha dari Tiongkok pergi ke kota Nara di Jepang untuk mengikuti peringatan meninggalnya bhiksu Jianzhen yang ke-1200 tahun. Waktu itu, para pengusaha produk-produk dari kacang juga ikut hadir. Konon, mereka mengikuti peringatan ini adalah demi berterima kasih kepada Jianzhen yang membawa proses pembuatan tahu ke negara Jepang. Yang menarik adalah, para peserta ini membawa kantong kain yang diisi berbagai macam produk dari kacang. Kantong tersebut bertuliskan “Tahu Tangchuan, dibuat di Huainan tang”.

Huainan tang adalah sebuah nama tempat pembuatan tahu, yang diambil dari nama pencipta tahu–raja Huainan, Liu An dari dinasti Han. Seorang raja bagaimana bisa menciptakan tahu? Ternyata Liu An menekuni teknik Huang Lao, berlatih siang malam. Seorang bhiksu yang menemaninya, adalah seorang vegetarian, sehingga untuk memperbaiki hidup, dengan teliti mengembangkan pembuatan tahu, yang pada akhirnya dipersembahkan kepada Liu An. Liu An setelah mencobanya, merasa sangat lezat, maka memutuskan untuk memproduksi tahu dalam jumlah besar. Dengan demikian, penciptaan tahu disandangkan pada nama raja Huainan, Liu An. Konon Liu An “naik ke langit” di gunung Ba gong. Di atas gunung telah didirikan sebuah kuil raja Huainan, Liu An, yang bernama “Ba gong shan doufu”, yang kemudian menjadi terkenal.

(Diterjemahkan dari Overseas Chinese Language and Culture Education Online)

Advertise Here